Sabtu, 18 April 2015

Peringatan Dini Cuaca Ekstrim Tanggal 19 sampai 21 April 2015



JAKARTA, Telukharunews.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jakarta melalui situs meteo.bmkg.go.id Sabtu,18 April 2015 pukul 20:04 WIB telah melakukan pemutakhiran data mengenai Peringatan Dini Cuaca Ekstrim terkait adanya sirkulasi siklonik di wilayah Samudera Hindia sebelah Barat Daya Lampung. Perlambatan kecepatan angin/konvergensi memanjang dari Perairan Selatan Jawa Tengah hingga Laut Jawa bag Barat dan dari Maluku Utara hingga Maluku bag Tengah. Pertemuan angin terjadi di sepanjang Kalimantan bagian Utara. Kelembaban udara cukup tinggi di sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan awan-awan hujan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

Akibat adanya kondisi seperti tersebut di atas akan menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia berpotensi Hujan Lebat pada tanggal 19 sampai 21 April 2015 yaitu masing-masing adalah :

  1. Aceh bagian Barat
  2. Sumatera Utara bagian Barat
  3. Nusa Tenggara Barat
  4. Nusa Tenggara Timur
  5. Kalimantan Tengah bagian Utara dan Selatan
  6. Kalimantan Utara
  7. Sulawesi Tengah bagian Selatan
  8. Sulawesi Selatan bagian Utara
  9. Sulawesi Tenggara
  10. Papua bagian Tengah dan Selatan

Prakiraan Hujan di Jabodetabek
Tanggal 20 – 23 April 2015

JAKARTA : Umumnya berawan, berpotensi hujan ringan – sedang di Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara pada siang/sore hari.
BOGOR : Umumnya berawan, berpotensi hujan ringan - sedang pada siang/sore hari.
TANGERANG : Umumnya berawan, berpotensi hujan ringan - sedang pada siang/sore.
BEKASI : Umumnya berawan, berpotensi hujan ringan - sedang pada siang/sore.
DEPOK : Umumnya berawan, berpotensi hujan ringan - sedang pada siang/sore.

Sumber : Meteo BMKG

Jumat, 17 April 2015

Menteri ESDM : Impor BBM Kok Masih Merasa Kaya Migas




JAKARTA – Sejak tahun 2008 Indonesia resmi menjadi net importir akibat tingginya konsumsi yang tidak dibarengi dengan produksi yang ada. Indonesia akan terus menjadi net importir jika tidak dilakukan langkah-langkah untuk mendapatkan cadangan minyak baru. Enampuluh persen kebutuhan BBM nasional masih impor dan semakin besar impor maka akan semakin besar ketergantungan Indonesia terhadap harga BBM dunia.

“Kita ini sejak tahun 2008 sudah menjadi net importir dan merasa kaya akan migas. Setiap kita mau bicara BBM, pasti kita bicara, kita ini negara kaya kenapa kita impor BBM kenapa kita naikkan harga. Itu salah polah pikir,” ujar Sudirman Said saat diskusi mengenai diversifikasi energi di Jakarta kemarin (14/4/2015).

Konsumsi BBM yang terus meningkat dan akan terus meningkat sehingga semakin lama, maka impor BBM akan semakin besar. “Sejak 2008 kita menjadi net importir dan akan terus menjadi net importir kalau kita engga berbuat apa-apa, 10 tahun lagi 80% dari BBM kita itu didapat dari impor,” lanjut Sudirman.

Pola pikir Indonesia kaya akan migas itu merupakan bagian dari paradok pengelolaan energi, paradok selanjutnya dijelaskan Sudirman adalah, Kita ini impor tidak punya infrastruktur cukup kemudian tidak pernah serius membangun infrastruktur dan paradok ketiga adalah, cadangan migas kita itu turun terus, produksi kita tidak naik-naik tetapi tidak ada dorongan kuat untuk bagaimana mendorong eksplorasi.

Cadangan minyak bumi Indonesia tahun 2014, terbukti sebesar 3.692,50 mmstb, potensial 3.857,31 mmstb sehingga total cadangan sebesar 7.549,81 mmstb. Besar cadangan tersebut diperkirakan akan habis dalam waktu beberapa belas tahun dengan asumsi tingkat produksi saat ini.

Menteri ESDM juga menjelaskan bahwa dalam pengelolaan sumber energi di Indonesia pada saat ini terdapat 4 (empat) paradoks, yang terdiri atas :

  1. Indonesia sudah melakukan impor minyak selama bertahun-tahun, namun masih memiliki perasaan bahwa kita kaya akan sumber daya migas. Hingga saat ini masih banyak opinion leader yang berpendapat bahwa kita masih kaya akan migas.
  2. Kita melakukan pemborosan dalam penggunaan BBM impor, dimana kita tidak memiliki kesadaran untuk mengelola energi dengan hemat. Selama puluhan tahun, ratusan triliun rupiah telah dihabiskan untuk subsidi, sementara subsidi itu tidak tepat sasaran dalam penggunaannya.
  3. Indonesia memiliki banyak sumber daya energi terbarukan, namun tidak serius dalam     pengembangannya dan hanya membatasi pada sumber energi fosil dengan cadangan yang semakin terbatas.
  4. Indonesia tidak pernah secara sungguh menyiapkan diri untuk mengelola energi yang bersifat sustainable.

Sebagai akibat dari 4 aspek tersebut, situasi energi kita pada saat ini cukup mencemaskan. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah dari sektor kelistrikan, pada saat ini hanya 50% yang dalam status normal. Oleh karena itu pemerintah beserta seluruh komponen akan senantiasa bekerja untuk memperbaiki secara fundamental iklim investasi serta kebijakan untuk lebih memfokuskan pada hal yang bersifat jangka panjang. (fi)

Sumber : Kementerian ESDM

Pertamina Mencapai Efisiensi USD 46,25 Juta Melalui Sistem Otomatisasi



Wianda Pusponegoro

JAKARTA - PT Pertamina selama Triwulan I berhasil mencapai efisiensi dalam proses penyaluran BBM dan LPG mencapai U$ 46,25 Juta.

Pencapaian tersebut merupakan kontribusi dari seluruh lini di Pemasaran dan Niaga atas beberapa program yang saat ini telah digulirkan sejak Januari 2015 tersebut. Pencapaian efisiensi tersebut diperoleh dari program Sales & Marketing Excellence, Supply Chain Excellence, Shipping Excellence, Losses Control yang didukung dengan system informasi teknologi (IT) yang terintegrasi di setiap proses bisnis di Pertamina.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan bahwa efisiensi yang berhasil diraih merupakan bukti bahwa Pertamina selalu meningkatkan kinerja dengan mengkaji seluruh proses bisnis yang dapat dioptimalisasikan dengan menggunakan sistem IT yang terintegrasi.  Mengingat kondisi dunia migas saat ini yang cukup memiliki banyak tantangan diperlukan usaha-usaha yang luar biasa untuk dapat terus menjalankan roda bisnis perusahaan agar dapat tetap memberikan kontribusi kepada negara.

“Beberapa program efisiensi yang telah digulirkan manajemen sejak awal tahun 2015 menunjukan hasil yang cukup signifikan bagi perusahaan dan kami terus berkomitmen untuk menciptakan efisiensi dalam proses bisnis lain yang masih dapat di optimalisasikan,” terang Wianda.

Menurut Wianda, Sales & Marketing Excellence berhasil menciptakan value sebesar US$ 100 ribu dengan mengembangkan pasar bahan bakar untuk kapal di wilayah Selat Malaka, sedang kan supply chain excellence menciptakan value U$ 6,72 Juta dengan optimasi pola pengangkutan LPG. Program Shipping Excellence dengan optimalisasi penggunaan kapal angkutan BBM dengan metode Freight on Board (FOB) serta re-negosiasi kontrak kapal sewa berhasil menciptakan value penghematan U$ 12,84 Juta.

Efisiensi yang cukup signifikan juga terlihat pada losses  control dengan mengintensifikasikan optimasi kargo penyaluran BBM dengan sistem IT terpadu yang telah terpasang di beberapa Terminal BBM Pertamina serta penghematan bungker consumption untuk armada kapal baik yang charter maupun armada milik.

Pembangunan infrastruktur yang selama ini telah di lakukan pertamina membuahkan hasil yang cukup signifikan dengan terkoneksinya realisasi penyaluran BBM ke system MySAP Pertamina. Sarana dan fasilitas yang mendukung integrasi penyaluran BBM tersebut antara lain Metering System, Automatic Tank Gauging (ATG), New Gantry System (NGS), End to End Data Automation (ETEDA), Auto Schedulling penjadwalan pengiriman BBM untuk mobil tangki (New Integrated Fleet Management System).

“Sistem ini sudah beroperasi di Terminal BBM Plumpang, Surabaya dan Ujung Berung Bandung dan tahun ini direncanakan akan segera terpasang di 20 Terminal BBM Pertamina lainnya,” katanya.

Dengan upaya-upaya tersebut maka Pertamina terus menekan losses saat ini dimana rata-rata losses Pertamina yaitu 0,3% yang masih berada di bawah standar standard tolerasi losses yang berlaku secara global, yaitu 0,5%. Namun, tuturnya, perusahaan terus berkomitmen untuk menekan tingkat losses tersebut sehingga operasi pasokan BBM menjadi lebih efisien.

Sumber: Pertamina

Rabu, 15 April 2015

Industri Hulu Migas Utamakan Industri Dalam Negeri


Ka.SKKMigas, Amien Sunaryadi (foto Ist)

JAKARTA, Telukharunews.com  – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) berkomitmen mengutamakan peran industri dalam negeri dalam kegiatan operasionalnya untuk meningkatkan multiplier effect bagi perekonomian nasional.

Menurut Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, untuk mewujudkan hal tersebut pada kegiatan hulu migas harus ada intervensi Negara dalam bentuk kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor industri nasional. “Keunggulan mekanisme kontrak bagi hasil yang berlaku di sektor hulu migas adalah negara masih hadir dalam melakukan kendali terhadap operasi yang dilaksanakan oleh kontraktornya,” kata Amien saat sambutan di acara Indonesia Supply Chain Management (SCM) Summit 2015 di Jakarta, Selasa (14/4).

Dicontohkan, Pedoman Tata Kerja (PTK) yang dikeluarkan SKK Migas untuk mengatur pengelolaan rantai suplai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) di industri hulu migas. Salah satu tujuan utama pedoman tersebut adalah peningkatan kapasitas nasional, seperti adanya kewajiban pelaksanaan pengadaan barang/jasa di daerah dan ketentuan mengenai konsorsium harus beranggotakan perusahaan dalam negeri.

Berdasarkan hasil kajian Universitas Indonesia mengenai multiplier effect kegiatan hulu migas bagi perekonomian nasional, disimpulkan bahwa setiap Rp 1 Miliar yang dibelanjakan oleh sektor hulu migas di dalam negeri akan berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja untuk 10 orang, peningkatan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 700 Juta dan pendapat rumah tangga sebesar Rp 200 Juta. Menurut data SKK Migas, tahun 2014, belanja sektor hulu migas mencapai Rp 209 Triliun. Artinya, menambah kesempatan kerja sebanyak 899.400 orang, meningkatnya PDB sebesar Rp 86 Triliun, dan pendapatan rumah tangga nasional sebesar Rp 23,8 Triliun.

Pada tahun 2014, nilai seluruh komitmen pengadaan barang dan jasa industri hulu migas sebesar US$ 17,354 miliar dengan persentase tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 54,15 persen (cost basis).

Sejak tahun 2010, penggunaan TKDN juga melibatkan partisipasi badan usaha milik Negara (BUMN) penyedia barang dan jasa. Periode 2010-2014 nilai Pengadaan yang melibatkan BUMN mencapai lebih dari US$ 4,51 miliar dengan TKDN sebesar rata-rata 77,25 persen.

Di luar itu, sejak 2009, seluruh pembayaran pengadaan barang dan jasa di sektor hulu migas harus melalui bank BUMN dan BUMD dengan total transaksi mencapai US$ 44,91 miliar. Tahun 2014, nilai transaksi yang melalui perbankan nasional mencapai US$ 12,43 miliar. Jumlah ini melonjak 50 persen lebih dari tahun 2013 yang nilai transaksinya senilai US$ 8,195 miliar.

Selain transaksi pembayaran, sektor hulu migas menyimpan dana rehabilitasi pasca operasi (abandonment and site restoration/ASR) di Bank BUMN. Sampai 31 Desember 2014 tercatat penempatan dana ASR di Bank BUMN telah mencapai US$ 635 juta atau meningkat 474 persen dibandingkan tahun 2009.

Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis, SKK Migas, M.I Zikrullah mengatakan, pencapaian yang sudah ada ini diharapkan dapat meningkat di masa mendatang. “Perlu adanya sinergi antara permintaan dan penawaran,” katanya.

Misalnya, agar industri dalam negeri tertarik untuk melakukan investasi harus ada informasi mengenai kebutuhan operasi hulu migas. Dengan adanya investasi, diharapkan kemampuan dalam negeri dapat semakin meningkat. Kemudian, agar Kontraktor KKS dapat secara optimal memanfaatkan produk barang/jasa dalam negeri, informasi mengenai kemampuan nasional harus dipromosikan dan dibuka seluas-luasnya.

Sementara itu, terdapat tantangan yang dihadapi antara lain, aspek kualitas, harga, dan tata waktu penyelesaian dari produk barang/jasa dalam negeri perlu ditingkatkan. “Untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri, struktur biaya yang harus ditanggung oleh industri di dalam negeri harus dikurangi,” kata Zikrullah.

SCM Summit yang digelar SKK Migas bersama dengan BP dan Petronas merupakan pertemuan tahunan yang menjadi ajang bagi seluruh profesional pengelolaah rantai suplai hulu migas untuk saling bertukar informasi, berbagi pengetahuan, dan merumuskan strategi dan terobosan dalam pengelolaan rantai suplai. 

Sumber : skkmigas