Wednesday, 15 September 2010

Selayang Pandang Pelsus Migas Dan Dock Yard Pangkalansusu

[caption id="attachment_836" align="aligncenter" width="600"]Dua kapal tanker LPG sedang bongkar buatan di Pelsus Pangkalansusu Dua kapal tanker LPG sedang bongkar buatan di Pelsus Pangkalansusu[/caption]
Oleh : Freddy Ilhamsyah PA

Pendahuluan



Sebagai salah satu wilayah yang terluas kawasan perairannya di Provinsi Sumatera Utara bahkan mungkin di pulau Sumatera, Pangkalansusu di Kabupaten Langkat boleh bangga karena di daerahnya terdapat Teluk Aru yang di pintu muaranya terdapat Pulau Sembilan dan Pulau Kampai yang sudah terkenal sejak jaman prakemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai kawasan bahari yang tersohor sejak jaman kerajaan/kesultanan sampai di masa pemerintahan Hindia Belanda, Pangkalansusu tercatat sebagai daerah pertama di Indonesia yang memiliki pelabuhan pengekspor minyak mentah (crude oil).
[caption id="attachment_840" align="aligncenter" width="600"]Pelabuhan Khusus Migas Pangkalansusu. Pelabuhan Khusus Migas Pangkalansusu.[/caption]
Pelabuhan Khusus Migas

Pelabuhan ini dikenal sebagai Pelabuhan Khusus Migas yang pertama di Indonesia yang didukung oleh lima dermaga berkasitas 1500 sampai 3000 DWT. Dermaga tersebut masing-masing adalah ; Dermaga GPLL berlantai papan sepanjang 40,8 meter, lebar 3,8 meter yang ditumpang oleh tiang baja. Kapasitas dermaga sebesar 1500 DWT dengan kekuatan 6 ton dan kondisinya sekitar 60%. Sedangkan dermaga C & D (Cargo) memiliki panjang 200 meter dan lebar 10,27 meter berlantai beton didukung oleh tiang baja dan beton. Dermaga berkapasitas 3000 DWT dan berkekuatan sebesar 30 ton itu masih berada dalam kondisi baik (50%) yang secara rutin melayani kapal tanker bermuatan LPG trayek Tanjung Uban/Dumai – Pangkalan Susu PP. Dermaga eks Japex memiliki ukuran; panjang 100 meter (lantai papan 3” x 9” sepanjang 85 meter dan lantai betong sepanjang 16 meter), lebar 9,45 meter, konstruksi tiang baja, kapasitas 1500 DWT, kekuatan 10 ton, kondisi berkisar antara 30 - 40%, ambang luar 6 meter dan kolam 5 – 10 meter. Dan dermaga Landing eks Mobil Oil. Draft maksimum 5,5 meter. Akses keluar-masuk wajib pandu dan hanya dilakukan pada siang hari..
[caption id="attachment_838" align="aligncenter" width="600"]Kapal tanker Gas Patra dan Gas Arjuna keluar dari Pelsus Pangkalansusu. Kapal tanker Gas Patra dan Gas Arjuna keluar dari Pelsus Pangkalansusu.[/caption]
Selain itu di Pangkalan Brandan juga terdapat 2 pelabuhan berkapasitas 1500 DWT, masing-masing adalah dermaga minyak memiliki ukuran 2,3 x 64 meter dengan konstruksi tiang baja, lantai papan, kekuatan 10 ton, draft maksimum 3,5 meter, kondisi 75%. Sedangkan dermaga cargo memiliki ukuran 94,5 (A-B-C) x 8 meter, konstruksi terdiri dari tiang baja dan beton, lantai beton dan papan, kekuatan 10 ton dan kondisinya sekitar 80%. Saat ini dermaga tersebut dipergunakan oleh TAC Pertamina-Salamander.

Dock Yard Pertamina Pangkalansusu
[caption id="attachment_842" align="aligncenter" width="600"]Galangan terapung Pertamina DOK Pangkalansusu Galangan terapung Pertamina DOK Pangkalansusu[/caption]
Seiring dengan perkembangan Pertamina sebagai salah satu industri besar yang strategis di negara bahari ( Indonesia ), maka berdampak kepada peningkatan armada milik Pertamina yang digunakan untuk mendistribusikan BBM sampai ke seluruh negeri dari Sabang sampai  ke Merauke.

Untuk mendukung kelancaran operasi armada perkapalan, pada tahun 1967 berdiri Pertamina DOK PB/PS (Pangkalan Brandan/Pangkalan Susu) yang kini disebut dengan nama PT Pertamina (Persero) Dock Yard PB/PS.

Menurut Head of Dock Yard PB/PS, Chairul Anwar, sejak tahun 1972, Dock Yard PB/PS mulai melakukan pengembangan sarana dan tenaga skill di Pangkalan Susu, mulai dari perluasan areal dock, rehabilitasi perkantoran dan bengkel, pembangunan baru bengkel mekanik, workshop, bengkel listrik, bengkel plat/las, bengkel pipa, bengkel perkayuan, gudang logistik, power house lengkap dengan jaringan listriknya. Sedangkan di DOK Pangkalan Brandan dibangun dan dioperasikan 3 slipway dock untuk melayani perbaikan kapal berbobot 50 sampai 250 ton, dan 1 floating dock di Pangkalan Susu yang mampu mendukung/ mengangkat kapal berbobot 750 ton dengan ukuran panjang kapal 60 meter, lebar 14 meter dan tinggi 6 meter.
[caption id="attachment_843" align="aligncenter" width="600"]Floating Dock Pangkalansusu. Floating Dock Pangkalansusu.[/caption]
Fasilitas yang tersedia di Bengkel Plat dan Las meliputi mesin gunting plat kapasitas sampai 16 mm x 3000 mm, mesin press plat kapasitas sampai 200 ton x 3000 mm x 1000 mm, dan mesin roll plat kapasitas sampai 16 mm x 3000 mm.

Sedang di Bengkel Mekanik tersedia mesin bubut kapasitas sampai panjang 12 meter x Ø 0,5 meter, mesin bor horisontal kapasitas Ø 750 mm, mesin bor vertikal kapasitas sampai Ø 75 mm, mesin sekrap kapasitas sampai 800 mm, alat balancing statis sampai Ø 3 meter, dan mesin frais kapasitas sampai 1000 mm x Ø 3.00 mm.

Selain itu Chairil juga menjelaskan bahwa kemampuan produksi di DOK PB/PS ( Pangkalan Brandan/Pangkalansusu ) khusus untuk docking repair, yaitu memperbaiki permesinan kapal kapasitas sampai 2500 HP, perbaikan sistem propulsi kapasitas sampai panjang 12 meter x Ø 3 meter, replating sampai 500 kg/hari ( juru las bersertifikat BKI ), perbaikan instalasi pipa, listrik dan perbaikan sistem navigasi dll.

Penutup

Mengingat bahwa armada tanker sungai sekelas MT Raharja dan MT Slamet sudah lenyap dari peredarannya karena sudah jadi besi tua, dan lumer di dapur pabrik besi, maka saat ini DockYard PB/PS yang berkedudukan di Pangkalansusu, selain melakukan docking repair kapal tagboat milik Pertamina juga melayani perbaikan kapal tagboat milik PT Arun dan kapal tanker sekelas MT Raharja dan kapal pejeberangan milik swasta serta instansi pemilik kapal lainnya.

Sebelum terjadi pergolakan politik di Aceh, kegiatan operasional DOK PB/PS cukup ramai dan padat. Tetapi ketika maraknya aksi perompakan di perairan Kabupaten Langkat dan sekitarnya, maka berdampak terhadap operasional DOK PB/PS jadi sepi karena tidak ada kapal yang mau melakukan perbaikan kapalnya (docking) di Pangkalansusu. Para pemilik kapal lebih memilih untuk docking ke Belawan atau ke Singapura.

Setelah situasi sudah kondusif, denyut nadi Dock Yard PB/PS mulai berjalan walaupun terasa masih lamban. Namun Alhamdulillah, kini kami sudah bisa mendapatkan untung dan tidak perlu lagi disubsidi oleh pusat hanya untuk membayar gaji karyawan dan tenaga kerja kontrak (outsourching) sekitar 80 orang.

Chairul Anwar optimis bahwa kiprah Dock Yard PB/PS akan berjaya kembali, mengingat fasilitas dan sarana yang dimiliki oleh Dock Yard  Pangkalansusu adalah yang terlengkap bila dibandingkan dengan usaha sejenis di Sumatera Utara. Ungkapnya mengakhiri wawancara dengan penulis di ruang kerjanya, Rabu (15/9’10).

Sunday, 12 September 2010

TERPIKAT KEMILAU DUNIA PESONA SURGA HILANG

TERPIKAT KEMILAU DUNIA, PESONA SURGA HILANG

Oleh : Someone Who Loves Jesus Very Much

Pada suatu ketika di tahun 1988, dikisahkan ada seorang pria berkebangsaan Iran bernama Merhan Karimi Nasseri, dicabut kewarganegaraannya ketika menaiki pesawat terbang menuju Paris. Paspornya diambil. Tanpa bukti kewarganegaraan, setiba di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan bandara. Selama 11 tahun dia tinggal di terminal, mandi di toilet bandara dan hidup dari bantuan staf bandara.

Pada tahun 1999, pemerintah Prancis akhirnya memberinya izin untuk tinggal dan bekerja di Paris. Sekarang dia menjadi orang bebas pergi ke manapun. Namun anehnya, ia tetap memilih tinggal di terminal bandara karena sudah terlanjur betah tinggal di situ. Setelah dibujuk selama beberapa hari akhirnya dia baru mau beranjak dari terminal bandara.

Sebab, sebesar dan sebagus apapun terminal bandara itu, jelas bukan rumah. Begitu juga dunia ini bukan rumah masa depan yang abadi. Kita tinggal di dunia hanya sementara yang kalau diibaratkan sebagai sebuah rumah, kita cuma menumpang di rumah tersebut yang berarti setiap saat bisa diusir, sebab bukan milik kita.Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini ” ( 1 Petrus 1: 17 ).

Berkaitan dengan hal itu, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa kita adalah warga surga. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Oleh sebab itu kita jangan sampai terjerat dengan daya tarik dan kenikmatan atau lebih mementingkan kehidupan duniawi yang sifatnya hanya sementara ketimbang kepentingan surgawi. Yang kita kejar hanya soal makanan, keuntungan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan dan jabatan. Padahal semuanya itu tidak kekal. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya “ ( 1 Yohanes 2:15-17 ).

“ Karena kewargaan kita ada di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya ” ( Filipi 3:20-21 )

Sebagai warga surga, seharusnya cara hidup kita harus berbeda, bukan hanya mengejar hal-hal yang bersifat sementara. Akan tetapi kita harus fokus pada hal-hal yang bersifat kekal, seperti kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Orang-orang yang  terlalu dekat dengan hal-hal duniawi akan takut meninggalkan dunia ini, apabila saatnya tiba.

Sebab segala hal keduniawian yang telah terlanjur digenggam erat akan sangat sulit dilepaskan. Oleh sebab itu, bersyukurlah jika Tuhan izinkan kita mengalami kehilangan, baik hartabenda, kenikmatan, kemewahan dan jabatan ataupun orang yang kita kasihi. Peristiwa itu seharusnya menyadarkan kita bahwa kesemuanya itu bukanlah milik kita dan dunia juga bukan rumah kita. Semuanya fana dan akan lenyap dalam seketika atas kuasa Tuhan. Saat hati terpikat oleh silaunya dunia, maka surga tidak lagi tampak mempesona.

Alangkah bahagianya kita setelah mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Juru Selamat umat manusia. Artinya apa ? Jelas bahwa kita masih berpeluang untuk diselamatkan oleh Tuhan Yesus, seperti Merhan Karimi Nasseri yang telah diselamatkan oleh staf terminal bandara.

Pada suatu ketika kita pasti akan berada dalam ketakutan yang tersembunyi, dan celakanya lagi justru yang ditakuti itu menimpa diri kita. Itu tidak lebih hanya sebagai cobaan yang harus kita hadapi. Hal itu sudah dijelaskan dalam surat Ayub 3:25-26  “ Karena yang kutakutkan itulah yang menimpaku, dan yang kucemaskan itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman ; aku tidak mendapat istirahat, tapi kegelisahanlah yang timbul.”

Yang kemudian jadi pertanyaan, kenapa kita mengalami pencobaan, ada yang ringan dan ada pula yang berat. Siapa yang mau kita salahkan ! Tuhan ? Jawabannya ada di bawah ini :

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata, percobaan ini datang dari Allah. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan IA sendiri tidak mencobai siapapun, tetapi  tiap-tiap orang dicobai  oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” ( Yakobus 1:13-14 )

“ Orang-orang muda menjadi lelah  dan lesu. Teruna-teruna jatuh tersandung, tapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka  berjalan dan tidak menjadi lelah, ” ( Yesaya 40:30-31 )

Keletihan fisik tidak sulit untuk ditanggulangi, tapi letih dan lesu secara rohani / jiwa sungguh-sungguh berbahaya.

Amsal 24:10 “ Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu ” Mungkin kita berkata “ Ah, saya sudah berdoa dan nunggu selama 10 tahun tapi tidak ada perubahan. Suami saya tetap seorang pemabuk, kasar dan suka menganiaya saya.” Ada lagi yang bilang, “ Saya sudah berdoa selama 6 tahun, tapi tidak melihat adanya jalan ke luar dalam keuangan saya dan juga keluarga saya. Bisnis saya hancur ! Untuk apa saya percaya dan berharap lagi ? Semua sudah buntu, sia-sia dsbnya. Tuhan ingin kita bertekun dan percaya sampai akhir, sekalipun kita BELUM melihatnya. (Yohanes 20:29.) Tuhan ingin kekuatan kita diperbaharui setiap hari. Kekuatan itu hanya kita jumpai saat kita menantikan DIA dan mengalami perjumpaan dengan Nya. DIA lah jawaban atas semua persoalan dan kebutuhan kita. Pada Tuhan Yesus ada kasih, kekuatan, sukacita, dan damai sejahtera. Bagi orang yang belum sungguh-sungguh kepada Tuhan, apalagi yang belum percaya, goncangan dibiarkan supaya mereka mencari Tuhan dan diselamatkan.

Tidak ada lagi hal yang dapat kita andalkan yang dapat kita percayai selain Tuhan Yesus. Sebab firman-Nya berkata : “…maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman…” ( 2 Petrus 2 : 9 ). Betapa mengerikan kalau kita sampai menjadi orang yang disimpan untuk disiksa pada hari penghakiman.

Oleh sebab itu kita harus senantiasa berseru kepada Allah sebagaimana diterangkan dalam Mazmur 55:17-18 :“ Tetapi aku berseru kepada Allah, dan Tuhan akan menyelamatkan aku di waktu petang, pagi dan tengah hari; aku cemas dan menangis ; dan Ia mendengar suaraku.”

Yesus adalah Tuhan atas segalanya. “ Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku ? ” ( Yesaya 66:1 )

Akhir kata, saudara-saudari sekalian marilah kita terus berpegang pada janji-NYA :

“ Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya “ . ( Wahyu 3 : 21 ) Amen.

Note : COOL/PA setiap hari sabtu pukul 17.00 di rumah keluarga Edward, Inge S. Purwita dan Bryan di Jalan Pinang Merah V/6, Pondok Indah – Jakarta Selatan.

Pintu terbuka lebar bagi yang ingin bergabung.

Saturday, 4 September 2010

Mengenang Peristiwa Brandan Bumihangus 63 Tahun Lalu

Catatan : Freddy Ilhamsyah PA

Untuk mengenang kembali peristiwa bumihangus di Pangkalan Brandan yang terjadi pada tanggal 13 Agustus 1947 yang setiap tahun diperingati di Pangkalan Brandan, penulis kembali menurunkan tulisan yang pernah dimuat setahun yang lalu di harian Medan Bisnis, koran Medan yang mengutamakan berita ekonomi dan keuangan. Tujuan penulis, supaya generasi muda Indonesia jangan sampai melupakan sebagian dari sejarah bangsanya.

Masalah ini pernah jadi pembicaraan Ketua DPRD Langkat ketika berlangsungnya peringatan 62 tahun peristiwa Brandan bumihangus yang berlangsung di Stadion Petrolia Pangkalan Brandan, Kamis (13/8’09) H. Syafruddin Basyir berharap agar Pemerintah Pusat menetapkan Brandan Bumihangus sebagai Hari Bersejarah Nasional.

Menurut Ucok Basyir, panggilan akrab untuk H. Syafruddin Basyir, khasanah sejarah, nilai-nilai kejuangan dan cinta tumpah darah yang terkandung dalam Brandan Bumihangus ketika itu jauh lebih hebat ketimbang Bandung Lautan Api. Ungkap Ucok kepada pers seusai memberi kata sambutan pada acara tersebut.

Pada masa itu, yang dipertahankan para pejuang adalah ladang-ladang minyak dan sumur-sumur gas yang ingin direbut kembali oleh pihak penjajah Belanda.

Ucok Basyir menggarisbawahi, bahwa hingga kini hasil bumi dari Kota Pangkalan Brandan berupa minyak dan gas bumi telah dikuras habis guna menghidupi program pembangunan di negeri ini. Namun masyarakat Langkat khususnya Pangkalan Brandan dari dulu hingga saat ini masih hidup dibawah garis kemiskinan, pengangguran kian meningkat, terlebih setelah Pertamina dinyatakan tidak beroperasi. Pernyataan ini sudah disebarluaskan oleh beberapa media massa terbitan Medan.

Berkaitan dengan hal di atas, penulis coba mengilasbalikkan beberapa peristiwa aksi bumihangus baik yang dilakukan oleh penjajah Belanda maupun oleh para pejuang kita di masa lalu yang tidak rela untuk menyerahkan secara utuh kilang minyak dan fasilitas produksi lainnya kepada pihak musuh.

Meletus Perang Dunia ke II

Menyadari bahwa minyak bumi adalah merupakan bahan baku sumber energi yang sangat penting bagi penggerak roda perekonomian dan roda-roda mesin perang, maka setelah meletus PD (Perang Dunia) II dan Pearl Harbour diluluhlantakkan oleh ratusan pesawat tempur kamikaze jenis Zero milik Kerajaan Dai Nippon, dalam sandi operasi “Tora Tora Tora” selama tiga jam pada tanggal 7 Desember 1941, Indonesia yang ketika itu masih dijajah oleh Belanda mendapat giliran diserang oleh Jepang, sebagai jembatan untuk penyerbuan selanjutnya ke Australia, dan pada tanggal 8 Desember 1941, Amerika dan sekutunya menyatakan perang terhadap Jepang.

Sedangkan di Indonesia, ketika masih dikenal dengan nama Nederlands Indies, Pemerintah Hindia Belanda yang merasa sudah tidak mampu lagi untuk menahan serbuan tentara Jepang yang sedemikian cepatnya ke Indonesia, apalagi setelah mengetahui bahwa armada laut Belanda dapat dilumpuhkan oleh Jepang dalam pertempuran laut yang dahsyat di perairan Laut Jawa, maka Belanda melakukan taktik bumihangus terhadap semua sarana dan fasilitas industri perminyakan di Pangkalan Berandan dan sekitarnya.

Dari himpunan data intelijen, Belanda mengetahui bahwa Bala Tentara Jepang yang telah mengobarkan Perang Dunia II berkeinginan untuk menguasai Asia Raya, dan Belanda yang bercokol di Indonesia menyadari bahwa kekuatan angkatan bersenjatanya terbilang “minim” bila dibandingkan Jepang. Jangankan Belanda, Amerika saja nyaris lumpuh dihajar Jepang. Jadi tidak ada kata lain bagi Belanda, dari pada seluruh instalasi dan fasilitas produksi minyak dikuasai secara utuh oleh Jepang, maka aksi bumihangus terhadap seluruh instalasi kilang BBM dan fasilitas produksi di Tarakan dilakukan oleh Belanda pada tanggal 13 Januari 1942, di Balikpapan tanggal 28 Januari 1942. Di Plaju, tanggal 15 Februari 1942 tapi Belanda hanya berhasil membakar lokasi, pembangkit listrik dan cadangan air karena tentara Jepang sudah menduduki Kota Plaju.

Pembumihangusan dan perusakan fasilitas produksi di Aceh Tamiang (Rantau) dan Langkat (Pangkalan Brandan dan Pangkalansusu) dilakukan Belanda selama tiga hari (9-11 Februari 1942). Pada tanggal 12 Maret 1942 Jepang masuk ke Kuala Simpang melalui pantai Kuala Beukah, dan Pangkalan Brandan pada tanggal 13 Maret 1942.

Penyerbuan balatentara Dai Nippon yang sangat cepat itu akhirnya berhasil menguasai industri perminyakan di Pangkalan Berandan dan sekitarnya termasuk yang terdapat di Aceh Timur, dan pengoperasiannya diserahkan dibawah pengawasan komandan militer setempat.

Untuk mengatasi kebutuhan BBM yang sangat mendesak demi kelancaran operasi militer Kerajaan Jepang yang ambisius menjadi penguasa tertinggi di Asia Timur Raya, maka segera dilakukan perbaikan lapangan dan kilang minyak dengan mempergunakan tenaga kerja Romusha dan para pekerja bekas BPM/Shell.

Berkat kerja keras para pekerja bangsa Indonesia dibawah pimpinan tenaga ahli berkebangsaan Jepang yang khusus dibawa dari negeri Sakura, dalam waktu yang relatif singkat Jepang telah berhasil memperbaiki kembali tambang minyak berikut kilang BBM peninggalan BPM di Pangkalan Berandan.

Untuk kepentingan militer dan industri di negerinya, Jepang telah pula berhasil meningkatkan produksi dan kapasitas kilang secara paksa. Contohnya, kilang BBM di Pangkalan Berandan yang berkapasitas produksi sebesar 300 ton/hari telah dipaksa produksinya menjadi 10.000 ton/hari.

Bukan hanya itu saja, pada tahun 1943 Jepang juga telah mendirikan kilang BBM yang berlokasi tersembunyi di kebun karet Paya Buyok agar tidak diketahui oleh pihak Sekutu yang sedang berseteru dengan Jepang. Kilang ini dipimpin oleh tiga orang pegawai berkebangsaan Jepang, yang dikepalai oleh seorang militer berpangkat Letda. dari Angkatan Darat Jepang dibantu tiga orang lulusan Nampo Sekyu Gakko (Sekolah Tambang Minyak), Pangkalan Berandan.

Peristiwa keberhasilan Jepang membangun kembali kilang BBM berikut fasilitas pendukungnya, baik yang terdapat di Pangkalan Berandan maupun di Aceh, telah menjadi perhatian serius dan incaran penyerbuan Sekutu untuk membombardir industri perminyakan di Pangkalan Berandan dengan maksud agar kekuatan Jepang di Asia Raya dapat dilumpuhkan.

Walaupun mendapat perlawanan yang sengit dari tentara Jepang, akan tetapi Amerika yang telah mendapat pukulan telak di Pearl Harbour mengajak sekutunya terus berupaya menghancurkan pertahanan lawan dengan dukungan ratusan pesawat pembom. Peristiwa 4 januari 1945 ini tidak berhasil menaklukkan tentara Kerajaan Dai Nippon yang dikenal sebagai pasukan berani mati. Namun ketika Amerika menusuk langsung ke “jantung Jepang“ dengan bom atom “Little Boy“ di Hiroshima tanggal 15 Agustus 1945 dan “Fat Man“ untuk Nagasaki (9 Agustus 1945) yang dibawa pesawat pembom B-29 “Enola Gray” milik Amerika Serikat. Akhirnya Jepang bertekuk-lutut setelah Kaisar Mikado Hirohito menyatakan menyerah kalah tanpa syarat.

Perjuangan merebut Tambang Minyak Pangkalan Brandan

Setelah balatentara Kerajaan Dai Nippon berhasil dilumpuhkan oleh Sekutu, orang Belanda yang telah memperoleh angin segar atas kemenangan Sekutu dalam pertempuran Asia-Pasifik, berusaha keras untuk menguasai kembali perusahaan tambang minyak di Pangkalan Berandan dan Aceh Timur, tapi sayang niat Belanda tidak kesampaian karena secara defenitif Pemerintah Negara Republik Indonesia (NRI) telah berkuasa di kawasan yang berada di luar daerah pendudukan tentara Sekutu.

Menyadari bahwa pihak Tentara Jepang tetap ngotot tidak mau menyerahkan tambang minyak Sayutai kepada Laskar Minyak (eks. Pegawai BPM/Sayutai) yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Komite Nasional Indonesia Teluk Haru dari Barisan Pemuda Indonesia, maka pada tanggal 8 Oktober 1945 beberapa pemuda BPI secara mengendap-endap di kegelapan malam berhasil menerobos masuk ke kompleks tambang minyak Pangkalan Berandan.

Adalah Bedul yang memanjat menara Pretoping setinggi 50 meter untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Pretoping sebagai tanda bahwa tambang minyak Pangkalan Berandan telah dikuasai oleh Laskar Minyak Pangkalan Berandan.

Sejak itu para pegawai Sayutai berkebangsaan Indonesia tidak bersedia lagi menjalankan perintah-perintah atasannya yang berkebangsaan Jepang dan tetap menduduki tambang minyak tersebut dengan aksi mogok kerja. Dengan demikian sejak pertengahan Oktober 1945 secara praktis kegiatan produksi tambang minyak Sayutai terhenti total.

Tambang minyak Pangkalan Berandan yang telah dikuasai oleh para Laskar Minyak, diganti namanya dari Sayutai menjadi Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMNRI). Penggantian nama ini dilakukan secara sepihak, sedangkan Tentara Jepang dan pegawai Sayutai yang berkebangsaan Jepang tidak dapat berbuat banyak karena memang posisi mereka sangat terjepit akibat kalah perang ditambah lagi dengan adanya penekanan dari pihak Laskar Minyak yang telah menduduki Sayutai dan penekanan dari Sekutu.

Sementara Pemerintah NRI sendiri belum berhasil menguasai sepenuhnya perusahaan tambang minyak Sayutai eks BPM/Shell karena pihak Sekutu atas permintaan Kerajaan Belanda, menekan tentara Jepang yang masih berada di kompleks kilang minyak Pangkalan Berandan agar tetap mempertahankan status quo perusahaan tersebut.

Karena adanya perjuangan yang gigih dari para insan perminyakan dan dukungan dari pejuang Kemerdekaan RI, akhirnya pihak Sekutu yang diwakili oleh tentara Inggeris, Mayor Fergusson atas nama Komando Tertinggi Tentara Sekutu di Sumatera, menyerahkan tambang minyak di Pangkalan Berandan dan Aceh Timur kepada Pemerintah NRI yang diterima oleh Residen Sumatera, Abdul Karim M.S. mewakili Gubernur Sumatera Utara, Mr. Teuku Mohammad Hasan dengan disaksikan oleh dua orang petugas dari Badan Komisi Dewan Keamanan, Residen Sumatera Timur, Mr. Luat Siregar, Bupati Langkat, Adnan Nur Lubis, Wedana Teluk Haru, Basir Nasution, Ketua Komite Nasional Indonesia Wilayah Teluk Haru merangkap anggota Dewan Sumatera, Amin Sutarjo, Sekretaris KNI Teluk Haru, Amiruddin Basir dan Komandan Keamanan Wilayah Teluk Haru, Letda. M. Hayar.

Seusai acara serah-terima itu, pada tanggal 20 Juni 1946 Gubernur Sumatera memberi mandat kepada Amin Sutarjo untuk mengatur dan menertibkan susunan organisasi serta mengangkat pengurus baru di perusahaan minyak eks Sayutai/BPM yang telah dirobah dan ditetapkan namanya menjadi Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan singkatan PTMRI, yang merupakan cikal bakal PT PERTAMINA (PERSERO) seperti yang dikenal saat ini.

Brandan Bumihangus

Tanggal 21 Juli 1947 diterima informasi dari pihak intelijen pejuang kemerdekaan RI, bahwa tentara Kerajaan Belanda telah melancarkan agresi militer terhadap kedaulatan Negara Republik Indonesia termasuk niatnya untuk merebut kembali perusahaan pertambangan minyak di Pangkalan Berandan dan sekitarnya.

Sebelum menyerbu ke Pangkalan Berandan, pihak Kerajaan Orange dengan dukungan Brigade “Z“ telah mengerahkan Batalyon IV/VI KNIL dan Batalyon 4-2 RI.KL untuk melakukan ofensif ke kawasan sektor Barat dan Utara Medan Area, yang dikabarkan telah berhasil melumpuhkan kota Medan pada tanggal 29 Juli 1947.

Setelah mematahkan perlawanan para pejuang Kemerdekaan R.I. di kota Medan, Sunggal, Binjai, Stabat dan Tanjung Pura, Belanda yang telah mengingkari Perjanjian Linggarjati (8 Maret 1947), terus bergerak maju ke arah Barat dengan tujuan Pangkalan Berandan.

Pasukan yang dipimpin oleh Letkol. H. Kroes yang khusus ditugaskan untuk menduduki Langkat, telah mendapat perlawanan sengit dari para pejuang kita yang tergabung dalam Batalyon Istimewa Divisi X TRI pimpinan Kapten Agus Husin. Pasukan musuh yang telah memasuki Securai berhasil dipukul mundur sampai ke batas demarkasi Gebang. Untuk memperingati peristiwa tersebut, di Gebang telah didirikan Tugu Demarkasi.

Beberapa hari setelah dipukul mundur oleh para pejuang kita, diperoleh informasi bahwa pasukan Belanda akan melakukan serangan secara besar-besaran untuk merebut instalasi industri perminyakan di Pangkalan Berandan. Hal ini dapat diketahui dari mata-mata Belanda yang berhasil di tangkap, yaitu Tengku Karma bin Tengku Sulaiman, kontelir Belanda di Tanjung Pura.

Melihat situasi yang sudah tidak menguntungkan lagi bagi keamanan dan keselamatan instalasi dan fasilitas industri perminyakan di Pangkalan Berandan, maka perintah Panglima Komando Divisi X TRI, Kolonel Husin Yusuf kepada Komandan KSBO (Komando Sektor Barat dan Oetara) Medan Area, Letkol Hasballah Hadji untuk membumihanguskan seluruh instalasi industri perminyakan berikut objek-objek vital lainnya baik yang terdapat di Pangkalan Berandan maupun di Pangkalan Susu harus segera dilaksanakan.

Surat Perintah yang sudah dipersiapkan oleh perwira operasi KSBO, Kapten Sudirman, Segera ditanda-tangani oleh Komandan KSBO pada tanggal 12 Agustus 1947. Surat tersebut diberikan kepada para komandan pioner pembumihangusan Pangkalan Berandan, yaitu Lettu. Usman Amir (mantan Ka. Djawatan Persendjataan Divisi Gajah I), Tengku Nurdin (mantan Danyon V RIMA/ Pesindo Divisi Rencong), Umar Husin (mantan perwira Pesindo Divisi Rencong) dan M. Yusuf Sukony (mantan perwira Divisi Rencong). Sedangkan tembusannya disampaikan kepada pemimpin PMC (Plaatselijk Militair Commando) Pangkalan Berandan, Mayor Nasaruddin yang bertanggungjawab penuh atas keamanan umum dan keselamatan penduduk kota itu.

Tepat pada pukul 03.00 dini hari tanggal 13 Agustus 1947, peristiwa pembumihangusan seluruh instalasi dan fasilitas industri perminyakan di Pangkalan Berandan dan sekitarnya telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sedangkan pembumihangusan kota Pangkalan Berandan berlangsung pada pukul 04.00.

Akibat dari aksi tersebut, secara praktis kota Pangkalan Berandan berikut kompleks industri perminyakan telah berubah wujud jadi lautan api dan gerak roda perekonomian jadi macet total. Itulah konsekuensi yang harus diterima oleh bangsa Indonesia.

Menurut catatan sejarah, bumi hangus di Pangkalan Berandan telah dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama pada tanggal 9 Maret 1942 dilakukan oleh Vernielinkcorps (tentara Belanda) sebelum penyerbuan tentara Jepang, tetapi karena dilakukan secara tergesa-gesa, kerusakannya tidak separah bumi hangus yang kedua.

Bumi hangus kedua dilakukan pada tanggal 13 Agustus 1947 oleh pasukan PMC yang mengakibatkan seluruh instalasi dan fasilitas industri perminyakan di Pangkalan Berandan termasuk ruko dan rumah penduduk jadi porak-poranda.

Bumi hangus ketiga dilakukan oleh bangsa kita pada tanggal 19 Desember 1948 ketika Belanda yang masih penasaran, melakukan agresi militer kedua di bumi Indonesia. Akibatnya, seluruh pertambangan minyak di Pangkalan Berandan jadi puing-puing yang berserakan dan ditinggalkan begitu saja untuk beberapa waktu lamanya.

Sedangkan tambang minyak di Rantau dan Langsa, Aceh Timur dapat diselamatkan dari taktik bumihangus karena pertahanannya diperkuat oleh pasukan Bateri II Arteleri dibawah pimpinan Kapten Nukun Sanany dibantu oleh TPR II Aceh Divisi Sumatera pimpinan Lettu. TN. Basyir Abdullah dan Letda. Syarif Agus.

Aksi bumihangus lainnya yang tidak kalah hebatnya juga terjadi di kompleks PTMN (Perusahaan Tambang Minyak Nasional) Kawenangan/Wonosari Cepu. Pasukan yang berjumlah 12 orang terlatih di bawah pimpinan Nandika selaku Kepala Tim Pelaksanaan Pembumihangusan Kilang Cepu, Perkantoran dan Kompleks perumahan karyawan pada tanggal 19 Desember 1948 sekitar pukul 17.00 WIB segera membakar dan meledakkan Kilang Minyak Cepu beserta seluruh fasilitas produksi seperti sumur minyak, tangki penimbun minyak yang berada di kawasan instalasi perindustrian minyak di Cepu.

Tercemar setetes nila ?

Banyak kalangan dan elemen tokoh masyarakat dan pemuda di Sumatera Utara, khusus Kabupaten Langkat dan lebih khusus lagi di Pangkalan Brandan yang mengakui bahwa aksi bumihangus di Pangkalan Brandan dan sekitarnya merupakan peristiwa heroik yang pantas diagendakan dan dicatat sebagai Hari Sejarah Nasional seperti yang dicetuskan oleh H. Syafruddin Basyir, Ketua DPRD Langkat yang juga adalah tokoh generasi muda didampingi H. Yan Syahrin, SE dan Zainal AK, bahwa sejak 62 tahun silam sampai saat ini, Brandan Bumihangus belum mendapat pengakuan dari Pemerintah Pusat sebagai Hari Bersejarah Nasional.

Menurut perkiraan penulis, belum diakuinya Brandan Bumihangus sebagai Hari Bersejarah Nasional karena dalam aksi bumihangus yang terjadi pada tanggal 13 Agustus 1947 telah “tertetes setitik nila” yang dibuat oleh segelintir anggota tentara dan laskar melalui aksi perampokan dengan kekerasan senjata terhadap para pengungsi keturunan Tionghoa. Perampokan terhadap warga Tionghoa terjadi lagi pada tanggal 15 Agustus, dan tanggal 16 Agustus 1947 malam terjadi lagi perampokan terhadap pengungsian Tionghoa lainnya yang sedang berkemah ditempat agak terpencil. Tiga orang anak gadis para pengungsi tersebut diperkosa oleh sekelompok anggota laskar.

Persoalan warga turunan Tionghoa yang jadi korban seperti tersebut di atas jadi berekor panjang ketika Konsulat Republik Tiongkok (Nasionalis), berkedudukan di Medan, mengajukan protes keras kepada Pemerintah Republik Indonesia di Bukit Tinggi mengenai perlakuan yang tidak wajar serta kerugian harta benda yang tidak sedikit, dan kesengsaraan yang diderita oleh bangsa Tionghoa di kota Pangkalan Brandan. Hal ini ditanggapi secara positif oleh Wapres/Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia nota kepada Panglima Divisi X TRI mengenai hal di atas.

Hasan Basrie Z.T. dalam buku “Fakta Sejarah Lengkap Pangkalan Brandan Dibumihanguskan” yang diterbitkan oleh Biro Sejarah Pejuang Republik Indonesia Medan Area, 13 Agustus 1983 menyebutkan, setelah menerima Nota Wakil Presiden / Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, Panglima Divisi X TRI lalu mengutus para petugas khusus untuk melakukan penyelidikan yang seksama mengenai peristiwa pembumihangusan kota Pangkalan Brandan.

Dari hasil investigasi dan pemeriksaan yang dilakukan oleh tim petugas khusus dari Komisi Militer yang diketuai Zainal Arifin Abbas dengan anggotanya Mayor Abdullah Muzakir, Muhammad Yusuf MS, M. Soegoed dan M. Siddik Saleh pada tanggal 10 sampai 11 September 1947 dapat diketahui bahwa pembakaran kota Pangkalan Brandan dilakukan dengan sengaja oleh PMC (Plaatselijk Militair Commandant) Pangkalan Brandan atas inisiatif Mayor Nazaruddin, bukan perintah dari Komandan Komando Sektor Barat dan Oetara. Selain itu juga terungkap kenyataan bahwa dalam situasi yang kacau, saat dilakukan pembakaran kota Pangkalan Brandan, terjadi pula perampokan terhadap penduduk Tionghoa yang sedang mengungsi ke luar kota. Semua kejadian tersebut menjadi tanggungjawab Mayor Nazaruddin selaku Komandan PMC Pangkalan Brandan.

Setelah mendapatkan laporan lengkap dari hasil interogasi terhadap orang-orang yang terkait langsung maupun tidak langsung dalam aksi pembumihangusan Kota Pangkalan Brandan, maka Panglima Divisi X, Kolonel Husin Yusuf mengeluarkan perintah yang cukup keras serta mencabut hak Mayor Nazaruddin sebagai Komandan.

Konsekuensi lainnya, yaitu Plaatselijk Militair Commandant  Pangkalan Brandan termasuk Batalyon TPKA dan TM (Tentara Pengawal Kereta Api dan Tambang Minyak) dibubarkan. Semua anggotanya yang bersenjata, dimutasikan ke bawah komando langsung KSBO pimpinan Letkol Hasballah Hadji. Sedangkan anggota yang tidak bersenjata ditarik ke Bireuen.

Kalau kita membaca beberapa fakta di atas, maka sulit rasanya harapan sementara elemen masyarakat yang menginginkan agar peristiwa Aksi Brandan Bumihangus dapat diakui sebagai Hari Bersejarah Nasional. Sebab kegiatan aksi membumihanguskan kota Pangkalan Brandan adalah “illegal”, bukan atas perintah komandan KSBO maupun Panglima Divisi X.

Tegasnya, Komando Divisi X TRI, yang merupakan instansi militer resmi untuk mengatasnamakan Pemerintah Republik Indonesia, tidak pernah memerintahkan PMC Pangkalan Brandan atau TPKA dan TM untuk membumihanguskan kota Pangkalan Brandan yang dihuni penduduk sipil.

Sebenarnya, Pemerintah Republik Indonesia tidak memerintahkan untuk membakar dan musnahkan seluruh isi kota dan desa yang dihuni oleh penduduk sipil. Akan tetapi yang harus dibumihanguskan adalah seluruh objek vital termasuk fasilitas lainnya yang dapat digunakan untuk kepentingan militer dari pihak lawan atau musuh. Sebab, pemusnahan kota dan desa hanya akan lebih menyengsarakan rakyat.

Kesimpulannya, memang harus diakui bahwa semangat heroik para pejuang kita yang tidak merelakan bumi nusantara tercinta ini dijajah kembali oleh Belanda, ketimbang dijajah kembali, lebih baik seluruh fasilitas penting di bumi nusantara ini dibakar sehingga menjadi abu. Ini pantas kita acungkan jempol.

Berpegang pada prinsip itu, tercermin semangat juang para pejuang kita adalah cukup tegar dalam satu kebulatantekad untuk memberikan pengorbanan yang lebih besar bagi kelanggengan kemerdekaan Bangsa dan Negara Republik Indonesia tercinta yang sudah terjajah selama 350 tahun. Ini pantas kita acungkan jempol. Namun sayangnya perinstiwa heroik itu telah dirusak oleh oknum-oknum tertentu yang mencari keuntungan perjuangan suci hanya untuk diri pribadinya.-

Pangkalansusu, 1 September 2010

Friday, 3 September 2010

Sekilas Tentang Keberadaan Pipa Loading 30 Inci Jalur Terminal Pusat Penampungan Produksi - Teluk Kerang

Oleh : Freddy Ilhamsyah PA

Terkait dengan kemelut keberadaan pipa loading diameter 30 inci yang berada di tepi jalan jalur Simpang Sungai Siur sampai ke simpang crossing ke arah proyek PLTU, maka penulis coba menyampaikan riwayat singkat tentang keberadaan pipa loading 30 inci dimaksud sebagai bahan masukan untuk para pihak terkait sebagai berikut :

Sebagai salah satu daerah Eksplorasi dan Produksi minyak dan gas bumi yang tertua di Indonesia, peninggalan BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) yang diaktifkan kembali dari puing-puing besi tua sisa Perang Dunia-II, PT Permina yang dipimpin oleh dr. Ibnu Sutowo selaku Direktur Utama beserta Mayor Hariyono (staf urusan logistik), Mayor S.M. Geudong (staf urusan keuangan), Kapten Affan (staf urusan administrasi), Ir. Soediono (staf urusan produksi) dan Awan Sunarjo (urusan perkapalan). Dengan kelompok kecil inilah PT Permina mulai beroperasi walau belum secara maksimal.

Modal awal PT Permina selain yang diperoleh dari subsidi pemerintah sebesar Rp 10 juta, juga didapat dari hasil ekspor perdana minyak mentah pada tanggal 24 Mei 1958 melalui Pelabuhan Pangkalansusu (anno 1892) dengan mempergunakan kapal tanker MT Shozui Maru Minyak mentah yang diangkut MT Shozui Maru (3000 DWT) sebanyak 1.700 ton senilai sekitar US$ 30.000,- Kapal tanker ukuran ini dipergunakan karena ketidakpastian mengenai keadaan alur pelayaran di perairan Teluk Haru yang diperkirakan masih banyak terpendam benda-benda reruntuhan sisa Perang Dunia II.

Ketika produksi minyak mentah (crude oil) di lapangan Pangkalansusu dan sekitarnya terus meningkat dan mengingat bahwa Pelabuhan Khusus Pangkalansusu tidak dapat dimasuki oleh ocean tanker, maka pada tahun 1969 dibangun transmisi jalur pipa loading berdiameter 30 inci termasuk SBM (Single Bouy Mooring) di lepas pantai Teluk Aru selesai pembangunannya pada tahun 1970.

Sejak itu, pengiriman minyak mentah yang berasal dari lapangan Pangkalansusu (Langkat - Sumatera Utara) dan lapangan Rantau (Aceh Tamiang - Nanggroe Aceh Darussalam) untuk kilang BBM di Kalimantan (Lawi-lawi) atau kilang BBM lainnya di pulau Jawa dilakukan dengan mempergunakan kapal tanker ukuran besar melalui SBM.

[caption id="attachment_136" align="aligncenter" width="600"]Penggantian pipa loading berdiameter 30 inci yang berada di tepi badan jalan mulai dari Simpang Sei Siur sampai ke Teluk Kerang kondisi sebagian besar pipa tersebut sudah tua (anno 1969). Penggantian pipa loading berdiameter 30 inci yang berada di tepi badan jalan mulai dari Simpang Sei Siur sampai ke Teluk Kerang kondisi sebagian besar pipa tersebut sudah tua (anno 1969).[/caption]Dalam periode 1970 sampai tahun 2007, pipa berusia 39 tahun itu hanya beberapa kali mengalami perbaikan dan penyisipan pipa yang telah korosif (karatan & bopeng), dan dikawatirkan dapat berdampak terjadinya kebocoran serta pencemaran lingkungan hidup. Penggantian dan penyisipan pipa loading tersebut diantaranya dilakukan pada tahun 2003 di HM 07 sampai HM 11 sepanjang 500 meter. Tahun 2005, penyisipan di HM 104 sampai HM 109 sepanjang 600 meter, dan pada tahun 2007 juga telah dilakukan penggantian/penyisipan pipa yang korosif sepanjang 500 meter, yaitu di HM 84 sampai HM 87,5 (350 meter), HM 129 sampai HM 129,5 (50 meter), dan HM 131 sampai HM 132 (100 meter). Total pipa loading line yang sudah disisip adalah sepanjang 1.600 meter. Sementara jalur transmisi pipa loading line mulai dari Terminal Loading sampai ke tepi pantai Teluk Kerang tercatat sepanjang sekitar 13,2 km (13.200 meter). Dengan demikian berarti masih ada tersisa sepanjang 17.800 meter lagi pipa berusia 39 tahun (1970-2009).

Atas dasar tersebut, maka tidak berkelebihan apa bila PT Pertamina EP Field Pangkalan Susu mempunyai perhatian dan kekuatiran khusus terhadap keselamatan dan keamanan pipa loading line berdiameter 30 inci yang berada di darat maupun yang berada di dasar laut perairan lepas pantai Teluk Aru (Aru Bay), Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.-

Pangkalansusu, akhir April 2009