Wednesday, 8 June 2016

Gempabumi 6,4 SR 124 Km Barat Laut Kota Ternate, Maluku Utara


Foto: Google Earth/USGS/THNews

JAKARTA, Telukharunews.com – Kepala Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat Gempabumi dan Tsunami Jakarta, Drs.Eko Suyanto dalam rilis No.: 3699 /InaTEWS/VI /2016 menyebutkan pada Rabu, 08 Juni 2016 pukul 02:15:17 WIB telah terjadi gempabumi tektonik berkekuatan 6,4 Skala Richter berlokasi di koordinat 1.37° Lintang Utara - 126.37° Bujur Timur.

Dikabarkan pusat gempa berada di dasar laut pada kedalaman 58 km berjarak 124 km Barat Laut dari Kota Ternate, Maluku Utara dirasakan di sekitar Ternate, Bitung, Manado dan Jailolo masing-masing III-IV MMI. Sedangkan di Tondano, Naha dan Melonguane masing-masing II-III MMI.

Sementara itu tidak ada informasi yang mengabarkan potensi Tsunami akibat gempa tersebut.

Editor: Freddy Ilhamsyah PA

Sunday, 5 June 2016

Gempabumi 5,3 SR 111 Km Barat Daya Ternate Maluku Utara


Foto: Google Earth/USGS/THNews

JAKARTA, Kepala Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat Gempabumi dan Tsunami Jakarta, Drs. Eko Suryanto dalam rilis Berita Gempabumi No. : 3697/InaTEWS/VI/2016 menyebutkan telah terjadi gempabumi tektonik berkekuatan 5,3 Skala Richter pada Sabtu, 27 Mei

Pusat gempa berada di koordinat  0.46° Lintang Utara - 126.43° Bujur Timur berada di laut pada kedalaman 10 km berjarak 111 km Barat Daya Ternate-Maluku Utara. Gempa itu dirasakan di sekitar Tenate II-III MMI namun tidak berpotensi Tsunami.

Editor: Freddy Ilhamsyah PA

Thursday, 2 June 2016

ICP Mei 2016 Naik Jadi USD 44,68 per Barel



JAKARTA, Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan, harga rata-rata minyak mentah Indonesia pada bulan Mei 2016 berdasarkan perhitungan Formula ICP mencapai US$ 44, 68 per barel atau naik sebesar US$ 7,48 per barel  dari US$ 37,20 per barel pada bulan April 2016.

Sementara harga SLC/Minas mencapai  US$ 49,46 per barel,  naik sebesar US$ 12,21 per barel  dari US$ 37,25  per barel dari bulan April 2016.

Peningkatan harga minyak mentah Indonesia tersebut,  sejalan dengan membaiknya harga beberapa minyak mentah utama di pasar Internasional, yang diakibatkan oleh beberapa faktor yakni:

1. Goldman Sach memproyeksikan pasar minyak dalam beberapa bulan terakhir dalam kondisi oversupply dan diperkirakan   menjadi defisit pada Mei 2016. Lebih lanjut, Goldman Sach juga merevisi naik permintaan minyak dunia tahun 2016 sebesar   0,2 juta barel per hari menjadi 1,4 juta barel per hari, khususnya mengantisipasi peningkatan permintaan dari Cina

2. Terdapat penurunan produksi minyak dari negara-negara Non OPEC:

  • Berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA) Mei 2016, produksi minyak negara-negara Non OPEC pada April 2016 turun 0,125 juta barel per hari menjadi 56,6 juta barel per hari dibandingkan Maret 2016.
  • Berdasarkan publikasi mingguan EIA, tingkat produksi minyak mentah Amerika Serikat pada 20 Mei 2016 kembali turun sebesar 58 ribu barel per hari  dibandingkan 29 April 2016 menjadi 8,77 juta barel per hari, terendah sejak September 2014.

3. Pada awal Mei 2016 terdapat gangguan produksi hingga lebih dari 1,5 juta barel per hari di Kanada, Nigeria dan Ghana (IEA Mei 2016):

  • Kebakaran hebat di Fort McMurray-Kanada memicu perusahaan oil sand menghentikan produksi hingga 1,2 juta barel per hari pada awal Mei 2016, sehingga produksi Kanada selama Mei 2016 turun sebesar 660 ribu barel per hari dibandingkan April 2016 menjadi 3,7 juta barel per hari (terendah sejak 2014).
  • Beberapa perusahaan Minyak Nigeria, selama bulan Mei 2016, mengumumkan kondisi force majeure pada kegiatan ekspor dikarenakan kebocoran pipa Shell (Minyak Mentah Bonny Light) pada 11 Mei dan pipa ExxonMobil (Minyak Mentah Qua Iboe, export grade terbesar di Nigeria) pada 13 Mei.
  • Di Ghana, Tullow menyampaikan produksi minyak pada awal Mei 2016 masih sebesar 30 ribu barel per hari pasca kerusakan FPSO di  Lapangan Jubilee, turun 70 ribu barel per hari jika dibandingkan produksi 2015.

4. Berdasarkan publikasi mingguan Energy Information Administration (EIA), terjadi peningkatan permintaan gasoline dan penurunan stok gasoline Amerika Serikat pada akhir bulan Mei 2016 dibandingkan akhir bulan April 2016:

  • Tingkat permintaan gasoline naik 14 ribu barel per hari menjadi 9,516 juta barel per hari.
  • Stok gasoline turun 1,7 juta barel menjadi 240,1 juta barel.

5. Terjadi penurunan stok minyak pada negara OECD:

  • Berdasarkan publikasi EIA, stok minyak mentah komersial dan distillate Amerika Serikat akhir Mei 2016 dibandingkan akhir April 2016 berturut – turut lebih rendah 6,3 juta barel dan 6,1 juta barel, menjadi 537,1 juta barel dan 150,9 juta barel.
  • Berdasarkan publikasi OPEC (MOMR) Mei 2016, stok minyak komersial negara OECD turun sebesar 11,5 juta barel pada bulan Maret 2016, dibandingkan bulan Februari 2016, menjadi 3.049 juta barel

6. Oil rig dunia (kecuali Cina dan FSU) turun hingga 71 rig pada April 2016 dibandingkan Maret 2016 menjadi 1.057 rig. (MOMR Mei 2016). Berdasarkan publikasi Baker Hughes, oil rig di Amerika Serikat pada 27 Mei 2016 turun 16 rig dibandingkan 29 April 2016 menjadi 316 rig.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi antara lain:

  • Menurut National Bureau of Statistics Cina, produksi Cina, pada April 2016 turun 5,6% menjadi 4,04 juta barel per hari (terendah sejak Juli 2013).
  • Menurut IEA Mei 2016, terdapat peningkatan permintaan minyak Cina dipicu oleh kebijakan Pemerintah dan diperkuat oleh revisi naik proyeksi peningkatan GDP Cina oleh IMF.
  • Pada aktivitas Rim Trading Board dan Platts Market On Close, tawaran (bid) SLC oleh Glencore selama Mei 2016 terus menunjukan peningkatan, pada awal Mei 2016 SLC masih ditawar $ 1,00 - $ 1,95 di bawah ICE Brent dan meningkat pada akhir Mei 2016 menjadi berkisar $ 2,85 - $ 3,25 di atas ICE Brent akibat terjadinya gempa dan peningkatan direct burning di Jepang menjelang musim panas.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Mei 2016 dibandingkan bulan April 2016 mengalami peningkatan menjadi sebagai berikut:

  • WTI (Nymex) naik  sebesar US$ 5,67 per barel dari US$ 41,12 per barel menjadi US$ 46,80 per barel.
  • Brent (ICE) naik sebesar US$ 4,31 per barel dari US$ 43,34 per barel menjadi US$ 47,65 per barel.
  • Basket OPEC naik sebesar US$ 5,26 per barel dari US$ 37,86 per barel menjadi US$ 43,12 per barel.

Sumber: Ditjen Migas.

Gempabumi 6,5 SR Di Pesisir Selatan Sumatera Barat


Gambar lokasi gempabumi 6,5 SR di pesisir Selatan Sumbar. Foto: Google Earth/USGS/THNews

JAKARTA, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Drs. Mochammad Riyadi, Msi dalam Press Release No: UM.505/IST 05-02/KPG/IV/2016 Kamis, 02 Juni 2016  menanggapi peristiwa  gempabumi tektonik yang terjadi di Pesisir Selatan - Sumatera Barat, maka kami menyampaikan pernyataan sebagai berikut :

Parameter awal gempabumi (5 menit pertama), telah terjadi gempabumi pada hari Kamis, 2 Juni 2016, 05:56:01 WIB, dengan kekuatan 6,5 M, Lokasi 2.29° LS dan 100.46° BT, kedalaman 72 km.
Parameter yang telah di update, dengan kekuatan 6,5 M, Lokasi 2.16° LS dan 100.70° Bujur Timur pada kedalaman 70 km.

Gempabumi berpusat di laut 79 Km Barat Daya Pesisir Selatan-Sumatera Barat, karena kedalaman gempabumi cukup dalam (72 km) maka gempabumi ini tidak berpotensi tsunami.

Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam belum ada gempabumi susulan. BMKG terus memonitor perkembangan gempabumi susulan dan hasilnya akan diinformasikan kepada masyarakat melalui media.

Dampak gempabumi

Berdasarkan hasil analisis tingkat guncangan (shakemap), intensitas gempabumi di sekitar Painan V-VI MMI  (III SIG-BMKG), Bengkulu, Kepahiyang dan Padang  IV  MMI (II SIG-BMKG), Padang Panjang  III - IV  MMI (II SIG-BMKG).

Hal ini sesuai dengan laporan masyarakat yang diterima BMKG bahwa gempabumi dirasakan cukup keras di Painan, Kepahiyang, Padang dan Padang Panjang, Sumatera Barat dan Bengkulu.

Sementara belum ada laporan informasi mengenai kerusakan.

Namun demikian BMKG akan terus memonitor perkembangan dan laporan dari lapangan untuk  mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Penyebab gempabumi

Berdasarkan parameter gempabumi, kejadian gempabumi  ini  disebabkan  aktivitas subduksi penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia.

Hasil analisis mekanisme sumber memperlihatkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh aktivitas sesar naik.

Himbauan untuk Masyarakat

Agar tetap tenang dan mengikuti arahan BPBD, serta informasi dari BMKG.

Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggungjawab mengenai gempabumi dan tsunami.
Agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan yang  pada  umumnya  kekuatannya semakin mengecil.

Sampai berita ini diterbitkan, tidak ada tercatat gempa susulan baik dari sumber USGS-NEIC maupun dari BMKG..


Editor: Freddy Ilhamsyah PA