Friday, 14 September 2018

Topan Ganas Mangkhut Ancam Filipina

Topan Mangkhut berskala besar dan ganas bersiap serang Filipina. Foto Google Earth/THnews.

Berdasarkan hasil pemantauan Telukharunews melalui fasilitas Google Earth pada Jum’at, 14 September 2018 pukul 14:43 WIB dapat diketahui posisi pusat pusaran Topan Mangkhut yang berintensitas ganas dengan mata topan berdiameter 64 km x 69 km ketika itu berada di dekat koordinat  16°34'39.50" Lintang Utara dan 125°58'24.89" Bujur Timur berjarak sekitar 566,79 km (65.20 derajat) sebelah Timur Laut Kota Manila,  Filipina atau berjarak sekitar 1.025,81 km (153.64 derajat) sebelah selatan-Tenggara dari Kota Tai Pei, Taiwan dan 1.398,31 km (115.35 derajat) sebelah Tenggara Hong Kong.

Sementara pihak Badan Meterologi Jepang (Japan Meteorological Agency) pada Jum’at, 14 September 2018 pukul 06:50 UTC (13:50 WIB) mengabarkan berdasarkan analisis pada hari yang sama pukul 06:00 UTC ketika itu Topan Mangkhut yang berskala besar dan berintensitas ganas (violent) posisi pusatnya berada di koordinat 16°40' (16.7°) Lintang Utara dan 125°40' (125.7°) Bujur Timur. Mangkhut yang memiliki tekanan di pusat 905 hPa (hectopascal) bergerak maju ke arah barat-Barat Laut dengan kecepatan 25 km perjam (13 knots). Kecepatan angin maksimum dekat pusat 55 menit perdetik (110 knots) dan hembusan kecepatan angin maksimum 80 menit perjam (155 knots). Area angin ≥ 50 knot 220 km (120 mil laut) dan area angin ≥ 30 knot Tenggara 750 km (400 mil laut) dan Barat Laut 560 km (300 mil laut).

Editor: Freddy Ilhamsyah PA

Monday, 10 September 2018

Topan Mangkhut Diprediksikan Akan Menyerang Filipina


Typhoon Mangkhut. Foto Google Earth/THnews.

Menurut hasil pengamatan Telukharunews pada Senin, 10 September 2018 pukul 15:53 WIB dapat diketahui posisi Topan Mangkhut berada di dekat koordinat  14°25'59.99" Lintang Utara dan 145°27'28.56" Bujur Timur berjarak sekitar 1.412,03 km (55,88 derajat) sebelah utara-Timur Laut Melekeok, Palau atau berjarak sekitar 2.631,71 km (87.20 derajat) sebelah Timur Kota Manila, Filipina.

Sementara berdasarkan peta prakiraan perjalanan Topan (Tyhpoon) Mangkhut baik yang dipublikasikan oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA/Japan Meteorological Agency) maupun Badan Meteorologi Korea (KMA/Korea Meteorological Administration) diprediksikan Topan Mangkhut yang berintensitas kuat dalam beberapa hari ke depan akan menyerang Filipina.
Prakiraan perjalanan Topan Mangkhut. Foto: KMA
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Jepang pada Senin, 10 September 2018 pukul 06 UTC (13:00 WIB) yang dirilis pada pukul 13:45 WIB menginformasikan posisi Topan Mangkhut yang berintensitas kuat ketika itu berada di koordinat 14°25' (14.4°) Lintang Utara dan 145°35' (145.6°) Bujur Timur. Mangkhut yang memiliki tekanan di pusat 955 hPa (hektopascal) dikabarkan bergerak maju ke arah Barat dengan kecepatan 30 km perjam atau 17 knots.

Kecepatan angin maksimum dekat pusat 40 menit perdetik (80 knots) dan hembusan maksimum kecepatan angin 60 menit perdetik. Sedangkan area angin ≥ 50 knot 130 km (70 mil laut/nautical mile), dan area angin ≥ 30 knot 330 km (180 mil laut).

Editor: Freddy Ilhamsyah PA

Friday, 7 September 2018

Benarkah Hanifan Adalah Tokoh Pemersatu Jokowi dan Prabowo ?

[caption id="attachment_1171" align="aligncenter" width="600"] Trio rangkulan yang sempat jadi trending topic media massa beberapa waktu lalu.[/caption]

Oleh : Freddy Ilhamsyah PA

Pendahuluan

Akhir-akhir ini aksi pesilat peraih medali emas pada Asian Games ke 18 tahun 2018, Hanifan Yudani Kusuma dikabarkan oleh media massa sebagai tokoh pemersatu Joko Widodo dan Prabowo Subianto sehingga jadi viral di media sosial.

Kejadian itu digambarkan sebagai penyejukan untuk masyarakat Indonesia. Kedua calon presiden, Jokowi dan Prabowo berpelukan bersama dengan atlet pemenang medali emas. Prabowo mengatakan bahwa kejadian pelukan itu merupakan permintaan dari atlet tersebut.

Sementara Pakar Komunikasi Politik, Lely Arrianie Napitupulu mengatakan moment yang terjadi usai pertandingan Hanifan (di ajang pencak silat Asian Games 2018, pen) adalah moment yang sudah diatur oleh Tuhan dan Hanifan menjadi tokoh yang terpilih untuk mempersatukan kedua tokoh Jokowi dan Prabowo.

Dari hasil pemantauan penulis terhadap isi pemberitaan di media massa (electronik/televisi, online dan koran) terkait dengan peristiwa/moment trio rangkulan/pelukan antara kedua calon presiden (Jokowi-Prabowo) dengan Hanifan Yudani Kusuma, pesilat peraih medali emas jadi timbul dua pertanyaan dalam diri penulis, yaitu :

  1. Benarkah Hanifan Adalah Tokoh Pemersatu Jokowi dan Prabowo ? (judul tulisan ini).

  2. Benarkah pelukan itu merupakan keinginan pribadi dari Hanifan Yudani Kusumah ?


Penulis yang merasa penasaran atas pemberitaan yang sempat viral dan tersebar luas di media sosial lalu melakukan penelusuran dengan melacak video di youtube terkait kemenangan Hanifan dalam arena final Pencak Silat kelas C 55-60 kilogram Putra di ajang Asian Games 2018.

Moment “Trio Pelukan” itu dipublikasikan secara terus-menerus di media massa sehingga sempat menjadi “Trending Topic” yang menimbulkan kesan bahwa Hanifan adalah “tokoh” pemersatu Jokowi dan Prabowo dalam pelukannya. Di kabarkan oleh kompas.tv 1,7 juta lebih netizen membicarakan momen kebersamaan Jokowi & Probowo.

Akibat pemberitaan itu naluri penulis jadi bertambah terangsang ketika kompas.tv/interaktif menyampaikan pertanyaan untuk pemirsa, “Apa pendapatmu tentang momen kebersamaan Jokowi dan Prabowo di arena pencak silat, di saat tensi politik jelang Pilpres 2019 belakangan memanas?” dalam acara Sapa Pagi Indonesia Pagi pada 30 Agustus 2018.

Teka-teki lain yang muncul di benak penulis adalah, kenapa yang dipilih untuk naik ke tribun adalah Hanifan, bukan Iqbal Candra Pratama (kelas 60-65 kilogram Putra) atau Komang Harik (nomor Tarung 65-70 kilogram) yang juga adalah pesilat peraih medali emas di arena Asian Games ke 18 tahun 2018 ?

[caption id="attachment_1170" align="aligncenter" width="600"] Prabowo sambut kedatangan Presiden Joko Widodo di Pandepokan Pencak Silat TMII-Ancol.[/caption]

Kalau sekiranya tujuan momen Trio Rangkulan itu untuk menunjukan kepada publik bahwa hubungan Jokowi-Prabowo adalah rukun dan damai walaupun mereka berdua adalah rival dalam Pilpres 2019 mendatang. Kenapa bukan momen “kemesraan” Jokowi-Prabowo ketika Prabowo menyambut ke datangan Jokowi dengan salam dan pelukan mesra sebelum masuk ke gedung Pendepokan Pencak Silat di TMII-Ancol.

Terungkap

Akhirnya terungkap bahwa “Trio Pelukan” bukan merupakan ide pribadi Hanifan semata, tapi atas suruhan dari Edhy Prabowo, politikus Partai Gerindra yang juga merupakan orang kepercayaan Prabowo Subianto. (Lihat rangkaian foto momen ketika Edhy Prabowo menyuruh Hanifan memeluk Jokowi dan Prabowo).

[caption id="attachment_1169" align="alignnone" width="600"] Prosesi saat terjadinya Trio Rangkulan Jokowi-Prabowo dan Hanifan.[/caption]

Hal tersebut di atas terungkap dari ocehan Ahmad Dani dalam acara Rossy di kompas.tv berjudul “Pelukan Menyatukan Jokowi-Prabowo ketika dia menanggapi pernyataan Maruarar Sirait (politikus PDIP) yang mengatakan, yang bagus menurut saya adalah siperaih emas. Dia dengan keyakinannya merangkul Jokowi dan Prabowo. Inilah kemauan rakyat Indonesia Jokowi dan Prabowo bersatu. “Jadi bagi saya yang hebat bukanlah Jokowi dan Prabowo tapi sipesilat yang bisa menyatukan Jokowi dan Prabowo dengan hati.”

[caption id="attachment_1168" align="aligncenter" width="600"] Ahmad Dani memperagai gaya Edhy Prabowo saat menyuruh Hanifan memeluk Jokowi-Prabowo.[/caption]

Menurut Ahmad Dani, sebenarnya yang paling berjasa adalah pak Edhy Prabowo seperti yang kita lihat tadi pak Edhy Probowo yang menyuruh Hanifan merangkul Jokowi dan Prabowo.

[caption id="attachment_1172" align="aligncenter" width="280"] Ekspresi Hanifah (ketawa lebar) ketika membenarkan pertanyaan Timothy.[/caption]

Adalah Timothy (host kompas.tv) yang mempertegas prediksi penulis dan Ahmad Dani ketika dia mengatakan kepada Hanifan, “Itu pak Edhy (Edhy Prabowo) juga suruh tarik Jokowi dan Prabowo. Lalu dijawab oleh Hanifan, ya betul pak Edhy. Hal ini terungkap dari video kompas.tv berjudul “Momen pelukan Jokowi-Prabowo Harus Jadi Panutan Pendukung.”

Penutup

Dalam uraian tersebut di atas sudah jelas dan terang benderangan bahwa acara “Trio Rangkulan” itu terjadi adalah atas inisiatif dan komando dari Adhy Prabowo kepada dirinya. Inilah pengakuan Hanifan Yudani Kusuma kepada Timothy dengan harapan “rangkulan mesra” bisa membuat Indonesia rukun dan damai jelang Pilpres tahun depan.

Pertanyaannya, Apakah momen pelukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto di final pencak silat Asian Games 2018 mampu mendinginkan suasana menjelang dan hingga Pilpres 2019 selesai dan seterusnya ? Jawabannya terpulang pada diri kita masing-masing.

Harapan penulis semoga para elit politik dan kelompok pendukungnya dapat senantiasa memelihara keharmonisan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Jangan ada lagi “sandiwara politik” dengan berbagai alasan, misalnya itulah dinamika politik yang dinamis. Intinya bukan “plintat-plintut.”

Mengakhiri tulisan ini penulis mengutip ungkapan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang telah mendaftarkan dirinya sebagai calon presiden dalam Pilpres untuk periode 2019-2024 sebagai berikut : “Kalau sudah untuk Bangsa dan Negara, kita semua bersatu, tidak ada perbedaan.”

[caption id="attachment_1167" align="aligncenter" width="600"] Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra rival Joko Widodo dalam Pilpres untuk periode 2019-2024.[/caption]

 

Sunday, 26 August 2018

Gempabumi Susulan M=5,5 Guncang Kabupaten Sumbawa Barat

Foto: Google Earth/THnews

JAKARTA, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, S.T, Dipl.Seis., M.Sc dalam rilisnya pada Minggu, 26 Agustus 2018, pukul 01.33.20 WIB, mengabarkan wilayah Kabupaten Sumbawa Barat kembali diguncang gempabumi tektonik.

Menurut hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=5,6 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=5,5. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,53 LS dan 116,93 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 25 km arah utara Kota Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 11 km.


Dengan memperhatikan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumbernya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (Thrust Fault). Mengingat episenternya relatif sama dengan gempabumi yang terjadi pada 19 Agustus 2018 lalu, maka BMKG menyatakan bahwa gempabumi ini merupakan rangkaian gempabumi susulan yang terjadi sebelumnya.

Menurut informasi dirasakan dari masyarakat, dampak gempabumi dirasakan di Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Sumbawa, Mataram II SIG-BMKG (III MMI), Kuta dan Denpasar I SIG-BMKG (II MMI). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami.

Hingga pukul 02.10 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 2 (dua) kali aktivitas gempabumi susulan (aftershock). Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.***

Editor: Freddy Ilhamsyah PA